Fokus Pengembangan Teknologi Roket

Berita



Ribuan Peserta Antusias Mengikuti Webinar Teknologi Roket Seri#1
Penulis Berita : Wigati • Fotografer : Ana • 22 Sep 2020 • Dibaca : 173 x ,

Webinar Teknologi Roket 2020 seri #1 kerjasama Pusat Teknologi Roket, Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) dengan Universitas Pertahanan (UNHAN) terselenggara pada tanggal 22 September 2020 pukul 9.00 – 12.30 WIB.  Acara berlangsung melalui zoom dan disiarkan secara live di kanal Youtube LAPAN RI.  Jumlah peserta 795 orang melalui zoom dan 122 orang melalui youtube dari 1340 peserta yang mendaftar dari berbagai instansi baik pemerintah maupun swasta, perguruan tinggi,  lembaga pendidikan, KNKT, KKIP dan dari luar negeri.

Kegiatan Webinar Teknologi Roket ini perdana diselenggarakan dengan tujuan memberi informasi kepada masyarakat luas tentang pengembangan teknologi roket di Indonesia, dan untuk menjaring potensi kerjasama dari para akademisi, industri dan stake holder yang terkait, serta untuk menarik minat masyarakat.

Webinar ini dibuka oleh Kepala LAPAN, Prof. Dr. Thomas Djamaluddin yang sekaligus memberikan sambutan sebagai penanda dimulainya rangkaian kegiatan seri webinar ini.   Dalam sambutannya beliau menjelaskan bahwa perkembangan teknologi roket di Indonesia merupakan sejarah panjang. Sejak LAPAN didirikan pada tahun 1963, teknologi roket adalah teknologi utama yang dikembangkan,  pada waktu itu Presiden RI, Soekarno mencanangkan apabila Indonesia ingin menjadi negara maju maka ada dua teknologi yang harus dikuasai, yaitu teknologi nuklir dan teknologi antariksa. Sejak itulah dibentuk BATAN dan LAPAN. Teknologi roket yang dikembangkan oleh LAPAN mengarah kepada penggunaan roket untuk mendukung peluncuran wahana antariksa. Hal tersebut tercatat  pada Undang-undang Keantariksaan (UU No. 21 tahun 2013).

Perlu disadari bahwa roket adalah teknologi yang memiliki kegunaan ganda, kegunaan lain  yaitu sebagai alat pertahanan. Kepala LAPAN menyebutkan roket pertahanan adalah domainnya Kementerian Pertahanan.  LAPAN  sebagai lembaga keantariksaan mengembangkan roket untuk kegunaan sipil yang diarahkan pada kegunaan peluncuran satelit, namun bagaimanapun teknologi roket yang dikembangkan oleh LAPAN dapat dikontribusikan pada teknologi secara nasional.  Kemitraan secara nasional diperlukan dan teknologi roket menjadi salah satu teknologi strategis yang harus dikuasai oleh Indonesia.

Selanjutnya sebagai pembicara kunci, Rektor Universitas Pertahanan,  Laksamana Madya TNI Dr. Amarulla Oktavian, S.T, M.Sc, DESD, CIQnR, CIQaR menyampaikan materi bertajuk “Roket Sebagai Alustsista Untuk Meningkatkan Sistem Pertahanan Negara”. Indikator keberhasilan penyelenggaraan pertahanan negara tercermin dalam daya tangkal bangsa terhadap setiap ancaman yang membahayakan kehidupan bangsa dan negara, baik dari luar maupun dalam negeri.

Lima sasaran strategis pertahanan negara: menangkal segala bentuk ATHG (ancaman, tantangan, hambatan, dan gangguan) yang membahayakan kedaulatan negara, keutuhan wilayah NKRI dan keselamatan seluruh bangsa Indonesia, menghadapi perang dari agresi militer, menanggulangi ancaman militer yang mengganggu eksistensi dan kepentingan NKRI, menangani ancaman nirmiliter, mewujudkan perdamaian dunia dan stabilitas regional.  Pengkategorian alat utama sistem senjata TNI terdiri dari alat utama, seperti kendaraan khusus, senjata, amunisi, pesawat terbang, alat berat khusus, penjinak bahan peledak, perlengkapan tempur, radar dan kapal. Kemudian alat pendukung, seperti peralatan fasilitas pangkalan, komunikas dan navigasi, perlatan survey dan pemetaan, peralatan kesehatan militer, peralatan laboratorium, peralatan pendidikan, peralatan publikasi, kendaraan atas air. Dan suku cadang, yaitu suku cadang alat utama dan suku cadang alat pendukung militer. Urgensi penguasaan teknologi roket sebagai Isu strategis nasional yaitu kebutuhan penguasaan teknologi frontier secara nasional, dilatarbelakangi oleh beberapa hal, seperti peluncuran satelit yg semakin mahal, isu laut cina selatan dan perbatasan kawasan asia tenggara, serta nilai ekonomi: nasional Pride, efisiensi biaya, pemenuhan kebutuhan pasar pengorbit satelit. Negara di dunia pengembang roket pertahanan antara lain China akan kembangkan Roket Biru Long March 11A, Rusia  dengan Rudal Avangard menandai fase baru dalam kemajuan roket Rusia, Iran memiliki beberapa jenis Roket yang diberi nama Kavoshgar, Safir, dan Simorgh, dan Indonesia punya RHAN Roket Pertahanan Indonesia. Multi disiplin ilmu dalam pengembangan roket terdiri dari aerodinamik, dinamika dan kinematika, mekanika terbang termodinamika, instrumentasi, prpulsi, material, rancang bangun struktur, dll. Dengan terciptanya sinergitas penguasaan teknologi akan menciptakaan kemandirian industri dan tentunya akan senantiasa menjaga Keutuhan Kedaulatan NKRI.

Sebagai pembicara kedua, yaitu Deputi Teknologi Penerbangan dan Teknologi LAPAN, Dr Rika Andiarti, dengan materi berjudul “Arah Kebijakan Pengembangan Roket: Ekosistem Industri Peroketan Nasionnal”.  Dalam paparannya Dr. Rika menyampaikan bahwa kegiatan keantariksaan salah satunya adalah penguasan teknologi antariksa. Salah satu penguasaan teknologi antariksa yaitu penguasaan teknologi roket yang tercantum dalam Perpres No 45 tahun 2017 tentang rencana induk penyelenggaraan keantariksaan.  Tujuan rencana induk adalah memberikan arah sekaligus menjadi pedoman nasional dalam mewujudkan cita cita dan tujuan keantariksaan nasional.

Tahun 2040 Indonesia ingin meluncurkan satelit secara mandiri dengan menggunakan teknologi roket. Targetnya, pada 2040 sudah mempunyai kemandirian dalam bidang keantariksaan dan kemajuan didalamnya.  Strategi yang akan diterapkan dalam memperkuat litbangyasa di antaranya adalah meningkatkan kualitas SDM, mengembangkan sarana dan prasarana litbangyasa, meningkatkan kerjasama nasional, meningkatkan kerjasama internasional, mendorong tumbuhnya industri dalam negeri dalam menyediakan bahan baku yang dibutuhkan untuk litbangyasa, mengutamakan penggunaan komponen lokal, melibatkan industri nasional secara dini dalam kegiatan penguasaan teknologi. Untuk mencapai target 5 tahun ke depan yaitu pengembangan roket sonda bertingkat dengan ketinggian terbang 300 km LAPAN juga akan membangun fasilitas peluncuran roket di Biak utara.

Pembicara ketiga yaitu Dr. Mardianis, S.H, M.H, Peneliti Ahli Madya dari Pusat Kebijakan Penerbangan dan Antariksa, yang membawakan materi “Penyiapan Regulasi Untuk Pengembangan Dan Operasi Roket Peluncur”.  Dalam paparannya beliau mengatakan bahwa pada umumnya berbagai kalangan sulit membedakan antara regulasi dan kebijakan. Ada tiga hal pokok yang membedakan yaitu untuk regulasi selalu terkait dengan pembentukan, implementasi, dan penegakan, sedangkan kebijakan terkait dengan tujuan pembuatan kebijakan, implementasi, dan evaluasi. Sampai saat ini hanya ada 12 negara yang menguasai teknologi roket secara independen dan hanya 8 yang mampu meluncurkan satelit sendiri, dan 6 negara yang bersaing dalam peluncuran komersial.  Dr. Mardianis juga menyampaikan pentingnya roket peluncur, di antaranya adalah untuk menunjukan keunggulan dan kemampuan bangsa di mata dunia, menguasai teknologi strategis, menjadikan sebuah negara disegani negara lain dan mendorong kemajuan IPTEK.  Salah satu elemen dari bisnis peluncuran adalah lokasi untuk meluncurkan roket (bandar antariksa).  Kerja sama di bidang pengembangan atau pengoperasian kendaraan peluncur jauh lebih rumit karena teknologi sensitif militer yang terlibat.

Dekan Fakultas Teknologi Pertahanan Universitas Pertahanan, Romie Oktavianus Bura, B.Eng (Hons), MRAes, Ph.D, CIQnr, CIQar, sebagai pembicara keempat, memaparkan “Peran Perguruan Tinggi dalam Penyiapan Sumber Daya Manusia untuk Penguasaan Teknologi Roket”. Tantangan pengembangan teknologi roket yaitu proses panjang dan berkesinambungan,  memerlukan dana besar dan memerlukan sumber daya manusia yang menguasai teknologi roket. Dari sisi ekonomi, space economy adalah pemanfaatan ruang angkasa untuk kesejahteraan.

Ada beberapa perguruan tinggi di dunia di bidang peroketan di antaranya adalah California Institute of Technology (Amerika Serikat), Indian Institute of Technology (India), ENAC & ISAE (Perancis), Seoul National University (Korea Selatan), University of Cambridge & University of Bristol (Inggris), Aerospace Engineering University (Turki), Moscow Institute of Physics and Technology (Rusia). Perguruan tinggi yang berperan dalam pengembangan roket di Indonesia adalah Fakultas Teknik Mesin dan Dirgantara  ITB, Fakultas Teknik Kedirgantaraan  Universitas Suryadharma, Akademi Teknologi Aeronautika Siliwangi Bandung, Sekolah Tinggi Teknologi Adisutjipto. Untuk mencapai SDM yang memenuhi kriteria harus dilakukan beberapa hal seperti menambah SDM dengan keahlian ilmu penerbangan, meningkatkan riset dan teknologi, memfasilitasi SDM dalam mengembangkan ilmu pengetahuan, membangun konsorsium roket.


Your Comments
No Comments Results.
Comment Form












Please retype the characters from the image below :


Reload the CAPTCHA codeSpeak the CAPTCHA code
 








Related Posts
No Related posts
Kontak kami :
Pusat Teknologi Roket

Jl. Raya Lapan No. 2 Mekarsari, Rumpin
Bogor 16350, Jawa Barat
Telp. (021) 70952065
Fax. (021) 7095206



Flag Counter
 

© 2019 | Pusat Teknologi Roket | Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional | LAPAN